Design Thinking dalam Berbagai Divisi Perusahaan
- CIAS

- Apr 22
- 4 min read
Meningkatkan Inovasi dan Efektivitas Bisnis dari HR hingga Business Development
Dalam dunia bisnis yang bergerak cepat, tantangan tidak lagi datang satu per satu, tapi muncul secara bersamaan dari berbagai arah. Perubahan pasar, ekspektasi konsumen, tekanan digitalisasi, hingga dinamika internal membuat perusahaan perlu pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah. Salah satu metode yang kini banyak digunakan untuk menjawab tantangan tersebut adalah Design Thinking.
Bukan hanya relevan untuk desainer atau pengembang produk, Design Thinking adalah pendekatan berpikir yang bisa diterapkan di hampir semua fungsi bisnis. Mulai dari divisi Human Resource, People Development, Transformasi Bisnis, hingga Business Development dan IT. Di sinilah pentingnya memahami secara menyeluruh apa itu Design Thinking, pengertian Design Thinking, serta bagaimana tahapan Design Thinking bisa diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing divisi.

Apa Itu Design Thinking?
Design Thinking adalah metode pemecahan masalah yang berpusat pada manusia, bukan pada sistem atau struktur perusahaan. Ini bukan sekadar teknik berpikir kreatif, melainkan proses terstruktur yang bertujuan menghasilkan solusi yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna, baik pelanggan eksternal maupun pengguna internal seperti karyawan.
Melalui Design Thinking process, perusahaan diajak untuk memahami secara mendalam tantangan yang dihadapi oleh pengguna, mendefinisikan permasalahan secara tajam, menggali ide kreatif, menciptakan solusi awal, dan mengujinya sebelum benar-benar diluncurkan.
Tahapan Design Thinking
Agar mudah dipahami, berikut adalah lima tahapan design thinking yang umumnya diterapkan di berbagai konteks bisnis:
Empathise
Memahami pengguna secara mendalam melalui observasi, wawancara, dan eksplorasi. Di tahap ini, empati menjadi kunci untuk menghindari solusi yang didasarkan pada asumsi belaka.
Define
Merumuskan masalah dengan jelas berdasarkan hasil empati. Di sinilah masalah didefinisikan dari sudut pandang pengguna, bukan hanya dari target bisnis.
Ideate
Menghasilkan berbagai ide dan alternatif solusi. Di tahap ini, tim diajak berpikir bebas dan luas sebelum memilih solusi terbaik.
Prototype
Membuat versi awal atau simulasi dari solusi yang diusulkan. Tujuannya bukan langsung sempurna, tetapi melihat reaksi pengguna secepat mungkin.
Test
Menguji prototipe dengan pengguna nyata dan mengumpulkan umpan balik. Hasil pengujian digunakan untuk menyempurnakan solusi sebelum diimplementasikan secara penuh.
Metode Design Thinking dalam Berbagai Divisi Bisnis
Divisi HR (Human Resource)
Design Thinking dalam HR dapat meningkatkan pengalaman kerja karyawan secara keseluruhan. Contoh nyatanya adalah ketika tim HR menggunakan tahapan Design Thinking untuk memperbaiki proses onboarding karyawan baru. Dengan mengobservasi dan berbicara langsung dengan karyawan, HR bisa merancang proses yang lebih menyenangkan, cepat, dan relevan.
Beberapa contoh Design Thinking lain dalam HR antara lain:
Merancang sistem rekrutmen berbasis pengalaman kandidat.
Membuat prototipe kebijakan kerja fleksibel yang diuji sebelum diluncurkan ke seluruh perusahaan.
Menyusun sistem benefit yang sesuai dengan kebutuhan hidup karyawan.
Divisi People Development
Dalam pengembangan SDM, tantangan umumnya adalah menciptakan program pelatihan yang benar-benar dibutuhkan dan digunakan. Dengan metode Design Thinking, tim pelatihan bisa menggali kebutuhan karyawan dari berbagai generasi dan latar belakang. Misalnya, hasil wawancara mendalam mengungkap bahwa karyawan muda lebih menyukai microlearning dibanding pelatihan konvensional. Maka tim pengembangan bisa membuat prototipe program pelatihan singkat berbasis video dan mengujinya langsung.
Divisi Transformasi Bisnis
Transformasi bukan sekadar mengganti sistem atau struktur, tapi perubahan cara kerja dan budaya. Tantangan terbesar adalah resistensi dari dalam. Di sinilah Design Thinking relevan. Dengan memetakan perjalanan perubahan dari sudut pandang karyawan, divisi transformasi bisa menciptakan pendekatan yang lebih empatik dan diterima luas.
Misalnya:
Karyawan diberikan ruang untuk menyuarakan kekhawatiran terhadap perubahan digital.
Diciptakan simulasi alur kerja baru yang diuji di satu unit kecil sebelum diperluas ke seluruh perusahaan.
Divisi Business Development
Dalam pengembangan bisnis, Design Thinking membantu melihat kebutuhan pasar dari perspektif yang lebih tajam. Tim bisa menggunakan pendekatan ini saat menjajaki pasar baru atau merancang layanan untuk segmen berbeda. Dengan melibatkan calon pelanggan dalam proses ideasi dan prototyping, solusi yang dihasilkan akan lebih sesuai kebutuhan pasar.
Contoh Design Thinking di divisi BD:
Melakukan sesi design sprint dengan mitra potensial.
Menguji proposisi nilai baru dengan kelompok pelanggan kecil.
Merancang alur onboarding partner yang lebih cepat dan ramah.
Divisi IT, Finance, Legal, dan Operasional
Meski tidak langsung bersentuhan dengan pelanggan eksternal, divisi-divisi ini tetap melayani pengguna internal. Design Thinking bisa digunakan untuk menyederhanakan proses reimburse, pengajuan dokumen legal, atau membuat sistem IT yang benar-benar membantu pekerjaan sehari-hari.
Contoh design thinking produk internal:
Membuat prototipe dashboard keuangan interaktif untuk tim manajemen.
Mendesain ulang sistem IT helpdesk agar lebih responsif.
Menciptakan SOP operasional berbasis kebutuhan frontliner, bukan hanya dari sisi efisiensi.
Contoh Design Thinking yang Sudah Terbukti
Salah satu contoh nyata penerapan Design Thinking adalah saat sebuah perusahaan ritel besar menggunakan metode ini untuk menurunkan tingkat turnover karyawan. Setelah melalui proses empati dan wawancara, tim HR menemukan bahwa masalah utama bukan pada gaji, tapi kurangnya komunikasi dan kejelasan jenjang karier. Dari sini mereka merancang sistem feedback dua arah dan prototipe platform karier internal yang kemudian berhasil menurunkan turnover hingga 35 persen dalam enam bulan.
Contoh lain datang dari divisi IT perusahaan logistik yang menggunakan Design Thinking untuk membuat aplikasi tracking pengiriman internal. Sebelumnya aplikasi lama membingungkan dan jarang digunakan. Setelah proses empati dan pengujian ulang dengan karyawan gudang dan driver, mereka merancang versi baru yang sederhana dan responsif. Hasilnya, waktu proses tracking menurun hingga 50 persen.




Dengan memahami pain point pelanggan, perusahaan dapat menciptakan layanan yang lebih responsif dan Among Us efisien.