top of page
  • Writer's pictureCIAS

Marak PHK karena AI. Ini Tantangan, Peluang, dan Keterampilan Kunci yang Perlu Dikuasai!

Updated: Jan 18

Google, Spotify & Duolingo disinyalir melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada karyawannya dan menggantikannya dengan teknologi kecerdesan buatan (AI). Benarkah AI memicu maraknya PHK di berbagai perusahaan & industri? Bagaimana individu atau karyawan dapat mengantisipasi ancaman PHK dan menjaga pekerjaannya agar tidak terancam? Dan bagaimana perusahaan menghadapi era AI saat ini? Mari kita kupas di artikel ini.



Dalam era revolusi kecerdasan buatan (AI), tantangan dan peluang melintasi berbagai sektor bisnis memunculkan dinamika yang signifikan. Tidak hanya memengaruhi startup, namun sektor-sektor lain juga dihadapkan pada potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang disebabkan oleh perkembangan teknologi ini.


Menurut Dr. Indrawan Nugroho, CEO & Co-founder Corporate Innovation Asia (CIAS) dalam wawancara bersama CNBC Indonesia 12 Januari lalu di segmen AI World, beliau memaparkan bahwa PHK akhir-akhir ini yang melanda startup tidak hanya dipicu oleh AI, tetapi juga oleh dinamika ekonomi global dan penurunan investasi. Alih-alih start-up, sektor manufaktur justru paling terancam oleh gelombang PHK akibat AI. Pekerjaan manual, repetitif, dan berbasis algoritma yang menjadi tulang punggung sektor ini terancam digantikan oleh otomatisasi AI. Dalam era di mana robot dapat mengelola gudang atau sistem inventaris tanpa kehadiran manusia, sektor manufaktur menghadapi tantangan nyata dalam mempertahankan jumlah pekerjaan.



Demokratisasi AI: Peluang untuk Semua


Di tengah tantangan dan ancaman ini, optimisme muncul dari demokratisasi AI. Berbeda dengan masa lalu, di mana negara-negara maju memiliki keunggulan teknologi, AI memberikan peluang setara bagi individu di seluruh dunia. Orang di Amerika, Eropa, Jepang, atau Indonesia dapat memanfaatkan teknologi AI dengan tingkat kemampuan yang sama. Perbedaan utamanya hanya terletak pada kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengadopsi teknologi ini.



Dalam menghadapi gelombang perubahan ini, bijaksana bagi perusahaan dan individu untuk memahami pergeseran yang terjadi. Dr. Indrawan Nugroho menekankan pentingnya pembelajaran dari Big Tech yang adaptif. Mereka bukan hanya mengadopsi teknologi terdepan, tetapi juga secara proaktif mempersiapkan SDM mereka untuk upskilling dan reskilling.


Sementara start-up mungkin memiliki keunggulan dalam keuletan dan keterampilan adaptasi, sektor lain, terutama sektor manufaktur, membutuhkan perencanaan yang matang untuk menghadapi tsunami PHK akibat AI. Pemahaman akan perubahan ini dan upaya untuk menyesuaikan pola kerja dan keterampilan menjadi kunci untuk meraih peluang dalam era AI.


Menghadapi Era AI: Keterampilan Kunci untuk Menyiasati Ancaman PHK


Meningkatnya kehadiran kecerdasan buatan (AI) saat ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para karyawan terkait potensi penggantian pekerjaan yang mereka lakukan. Dukungan terhadap kekhawatiran ini datang dari hasil riset berjudul Work Trend Index 2023 yang dilakukan oleh Microsoft. Hasilnya menunjukkan bahwa 48 persen karyawan di Indonesia merasa cemas dengan kemungkinan kecerdasan buatan mengambil alih peran pekerjaan mereka.


Populix, perusahaan riset dan penyedia survei online di Indonesia, juga mengungkap hal serupa. Pada tahun 2023, mereka melakukan survei yang melibatkan 1.246 responden dari kalangan Gen Z dan milenial di Indonesia. Dari hasil survei tersebut, 55 persen responden menyatakan kekhawatiran terkait potensi penggantian pekerjaan mereka oleh AI.



Dengan maraknya AI, ada banyak sekali perubahan yang tidak hanya mempengaruhi pekerjaan manual, tetapi juga merambah ke bidang berpikir kreatif, bahkan di dalam ranah seni dan bisnis. Lalu, bagaimana karyawan dapat melindungi pekerjaan mereka dari ancaman AI?


Keterampilan yang Dibutuhkan untuk Menghadapi Ancaman AI


1. Kemampuan Berpikir Kreatif dan Analitis:


Pada wawancara bersama CNBC Indonesia dengan topik 'AI World', Dr. Indrawan menekankan ada 3 keterampilan yang perlu menjadi perhatian bukan hanya karyawan tapi perusahaan agar tetap relevan di era AI saat ini. Salah satu keterampilan yang palingpenting adalah berpikir kreatif dan analitis. Di era di mana kecerdasan buatan mengambil alih pekerjaan rutin, kemampuan untuk berpikir di luar batasan algoritma menjadi kunci. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan emosional, kreativitas, dan pemecahan masalah kompleks akan menjadi semakin bernilai.


2. Organization & Working Agility:


Ancaman AI tidak hanya bersifat individual, melainkan juga bersifat organisasional. Model bisnis yang sudah ada dapat menjadi usang, dan organisasi perlu memiliki ketangguhan dan agility yang optimal dalam beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Keterampilan beradaptasi menjadi esensial, baik pada tingkat individu maupun organisasi.


3. Kemampuan Menggunakan Tools AI:


Keterampilan praktis dalam menggunakan AI menjadi penting. Karyawan perlu memahami AI dan memiliki kemampuan untuk mengaplikasikannya dalam pekerjaan sehari-hari. Penggunaan AI bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan efisiensi, asalkan karyawan dapat mengintegrasikan teknologi ini dalam alur kerja mereka.


Pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan dalam menghadapi revolusi AI tidak bisa diabaikan. Bersama-sama, Dr. Indrawan Nugroho dan tim konsultan CIAS menyoroti peran krusial perusahaan dalam memberikan edukasi dan pelatihan kepada karyawan. Edukasi ini melibatkan pemahaman mendalam tentang penerapan teknologi AI yang tepat, pengembangan keterampilan berpikir kreatif, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan yang terus-menerus. Dengan menguasai tiga keterampilan tersebut, kami yakin perusahaan Anda siap untuk menghadapi revolusi AI.


Apakah perusahaan Anda siap untuk menguasai era AI? CIAS hadir untuk membantu perusahaan Anda beradaptasi dan unggul. Konsultasikan kebutuhan dan tantangan perusahaan Anda dengan kami segera. Temukan solusi terbaik untuk mengasah keterampilan yang krusial di era AI. Hubungi kami di sini.

Artikel ini dibuat oleh Corporate Innovation Asia (CIAS), perusahaan hands-on consultant dengan misi 'Meningkatkan Daya Saing Global Indonesia melalui Inovasi Korporat'. Kami siap memapukan karyawan Anda di perusahaan dari berbagai divisi untuk merancang, menghadirkan & memperluas inovasi guna meningkatkan kinerja bisnis.







919 views0 comments

Comments


bottom of page