Menjalankan Proyek Inovasi dengan Design Thinking dan Agile di Tengah Ketidakpastian Inovasi Bukan Lagi Pilihan Tambahan
- CIAS

- 2 days ago
- 4 min read
Perusahaan di berbagai sektor saat ini dihadapkan pada tekanan yang semakin kompleks: perubahan ekspektasi pelanggan, disrupsi teknologi, ketidakpastian geopolitik, krisis iklim, dan fluktuasi ekonomi global. Menurut laporan dari McKinsey & Company (2023), 84% eksekutif global menyatakan bahwa inovasi menjadi salah satu prioritas strategis utama untuk mempertahankan daya saing dalam lima tahun ke depan. Namun hanya 6% dari mereka yang merasa puas dengan hasil inovasi yang dijalankan perusahaan mereka.
Di tengah kondisi ini, perusahaan tidak cukup hanya menggulirkan ide-ide baru. Mereka harus bisa menyusun, mengimplementasikan, dan mengakselerasi proyek inovasi dengan pendekatan yang terstruktur, kolaboratif, dan fleksibel. Inilah mengapa perpaduan Design Thinking dan Agile semakin banyak digunakan untuk membangun Strategic Innovation Projects (SIP) yang mampu menjawab tantangan nyata secara adaptif.

Mengapa Design Thinking dan Agile?
Design Thinking menempatkan pemahaman mendalam terhadap manusia sebagai titik awal inovasi. Sementara Agile fokus pada proses pengembangan yang cepat, iteratif, dan responsif terhadap umpan balik. Digabungkan, keduanya membentuk pendekatan yang solid untuk menciptakan solusi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga bisa diterapkan dan ditingkatkan secara berkelanjutan.
Studi dari IBM Institute for Business Value (2022) menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi pendekatan berbasis Design Thinking memiliki peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 75%, peningkatan produktivitas tim sebesar 50%, dan waktu ke pasar yang 2,2 kali lebih cepat. Di sisi lain, riset dari VersionOne’s State of Agile Report (2023) menemukan bahwa 95% organisasi yang mengadopsi Agile melaporkan peningkatan kemampuan untuk mengelola prioritas yang berubah.
Perusahaan yang menggabungkan keduanya mampu:
Menghindari solusi yang dibuat di ruang rapat tanpa validasi lapangan
Membangun iterasi cepat dengan umpan balik langsung dari pengguna
Meningkatkan engagement tim lintas fungsi
Menurunkan risiko proyek karena tiap tahap dibangun dengan data nyata
Baca juga: Strategic Innovation Project: Cara Nyata Menjalankan Inovasi di Perusahaan dari Berbagai Industri
Struktur Menjalankan Proyek Inovasi: Dari Empati ke Eksekusi
Dalam pendekatan Strategic Innovation Project (SIP), kombinasi Design Thinking dan Agile dapat disusun dalam alur berikut:
Empati: Memahami Masalah dengan Tajam
Perjalanan dimulai dari riset yang berfokus pada manusia. Bukan sekadar survei, tetapi wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi perilaku yang menggali frustrasi, kebiasaan, dan harapan pengguna atau stakeholder kunci.
Contoh di lapangan:
Perusahaan logistik mengidentifikasi bahwa sopir pengantar barang kesulitan mengakses informasi real-time terkait rute tercepat karena antarmuka sistem yang rumit.
Divisi HR di perusahaan teknologi menemukan bahwa onboarding karyawan baru terasa "dingin" karena kurangnya personalisasi dalam minggu pertama kerja.
Definisi Masalah: Merumuskan Fokus yang Relevan
Data dari tahap empati disintesis untuk merumuskan problem statement yang spesifik dan berbasis kebutuhan nyata, bukan asumsi manajemen. Ini menjadi dasar arah inovasi.
Ideasi: Membangun Solusi Lewat Kolaborasi Lintas Fungsi
Tim dari berbagai divisi—teknologi, operasional, layanan pelanggan, pemasaran—dilibatkan dalam sesi brainstorming terstruktur. Di sinilah benih solusi inovatif muncul, tanpa takut salah atau dibatasi oleh struktur formal organisasi.
Prototyping Cepat: Visualisasi Konsep ke Bentuk Nyata
Dalam waktu singkat, ide divisualisasikan dalam bentuk prototipe, entah itu sketsa, simulasi, mockup, atau MVP (minimum viable product). Kuncinya adalah build fast to learn fast.
Menurut Harvard Business Review (2021), perusahaan yang menggunakan rapid prototyping dalam fase awal proyek mengurangi risiko kegagalan proyek sebesar 33%.
Testing dengan Umpan Balik Nyata
Prototipe diuji langsung pada pengguna. Fokus bukan pada validasi ego tim, tapi untuk menangkap insight baru yang mungkin terlewat. Sering kali dari sini muncul perbaikan penting sebelum eksekusi skala penuh.
Eksekusi Iteratif dengan Agile
Setelah solusi matang, tahap implementasi dijalankan dengan pendekatan Agile. Tim dibagi dalam sprint-sprint pendek (biasanya 1-2 minggu), dengan siklus build-test-learn yang terus berjalan.
Pendekatan ini memampukan perusahaan untuk:
Merespons perubahan regulasi
Menyesuaikan prioritas bisnis
Mengadopsi masukan pelanggan secara real-time
Kapan Pendekatan Ini Paling Relevan?
Berdasarkan pengalaman banyak perusahaan, pendekatan SIP berbasis Design Thinking dan Agile paling berdampak ketika:
Perusahaan ingin mengembangkan produk atau layanan baru
Proyek transformasi digital butuh arah yang jelas dan cepat
Tim lintas divisi perlu disejajarkan dengan tujuan bersama
Inisiatif perubahan kultur atau sistem kerja butuh "pilot" yang bisa dieksekusi
Problem kompleks tidak bisa diselesaikan hanya dengan solusi teknologi
Tantangan dan Cara Menghadapinya
Meskipun powerful, implementasi pendekatan ini bukan tanpa tantangan:
Kebiasaan kerja yang kaku: Budaya kerja yang terlalu hierarkis bisa menghambat kolaborasi lintas fungsi.
Fokus pada solusi, bukan masalah: Banyak perusahaan langsung lompat ke solusi tanpa memahami akar masalah.
Kurangnya kapasitas fasilitasi: Banyak tim belum terbiasa dengan metode fasilitasi seperti ideation, user testing, atau sprint retrospektif.
Untuk itu, penting bagi perusahaan untuk bekerja sama dengan mitra yang berpengalaman dalam menyusun dan memfasilitasi proyek inovasi secara sistematis.
Penutup: Saatnya Bergerak
Di tengah tuntutan pasar yang makin cepat berubah, perusahaan tidak bisa lagi menunda inovasi. Tapi inovasi tidak cukup hanya dengan ide besar. Ia harus dijalankan dengan arah yang jelas, ritme yang adaptif, dan proses yang melibatkan pengguna sejak awal.
Menggabungkan Design Thinking dan Agile adalah cara untuk memastikan bahwa inovasi bukan hanya relevan, tapi juga bisa dijalankan dengan cepat dan berdampak.
CIAS: Konsultan Inovasi Korporasi yang Bekerja Bersama Tim Anda
CIAS adalah konsultan inovasi yang membantu perusahaan menyusun dan menjalankan Strategic Innovation Project secara konkret. Kami mendampingi perusahaan dalam membangun proses inovasi yang berakar pada empati, diperkaya oleh kolaborasi, dan dijalankan dengan ketangkasan Agile.
Tim CIAS telah berpengalaman mendampingi berbagai perusahaan di sektor energi, teknologi, manufaktur, hingga layanan publik. Kami bekerja langsung bersama tim Anda, bukan hanya memberikan arahan dari luar.
Jika perusahaan Anda ingin menjalankan proyek inovasi yang tidak hanya relevan secara strategi, tetapi juga bisa dieksekusi dan ditingkatkan secara berkelanjutan, mari mulai percakapan.
Silakan hubungi kami untuk menjadwalkan diskusi awal dan mulai membangun ekosistem inovasi yang bekerja nyata.
Corporate Innovation Asia (CIAS) adalah Hands-on Consultant dengan misi memampukan perusahaan dalam merancang, mengembangkan dan menyebarkan inovasi untuk mendorong kinerja bisnis, telah membantu berbagai industry leaders di Indonesia. Hubungi CIAS di sini.




Comments