top of page

Ini Cara Scale Up Pendekatan Agile di Perusahaan

Metode Agile adalah pendekatan inovatif dalam pengembangan produk dan manajemen proyek yang menekankan pada kerjasama tim, responsivitas terhadap perubahan, dan penyampaian hasil secara berkelanjutan. 


Agile memungkinkan tim kecil dan multidisiplin untuk bekerja dekat dengan pelanggan, sehingga dapat cepat beradaptasi dengan kebutuhan yang berubah dan mengurangi risiko kegagalan. Ini menghasilkan peningkatan produktivitas, percepatan waktu ke pasar, dan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode tradisional.



Namun, bagaimana jika konsep ini diterapkan tidak hanya pada satu tim tetapi ratusan bahkan ribuan tim di seluruh organisasi? Pertanyaan inilah yang mulai mengemuka di kalangan pemimpin bisnis yang telah menyaksikan keberhasilan agile dalam skala kecil. Darrell Rigby, Jeff Sutherland, dan Andy Noble berusaha menjawab pertanyaan ini dalam artikelnya di Harvard Business Review.



Penerapan Agile pada Skala Besar

Menerapkan Agile dalam skala besar melibatkan tantangan unik, terutama ketika organisasi mencoba untuk mentransformasi ratusan atau bahkan ribuan tim ke dalam kerangka kerja Agile. Hal ini tidak hanya menuntut perubahan dalam cara kerja tim, tetapi juga membutuhkan adaptasi di tingkat strategis dan organisasi.


Belajar dari Spotify dan Amazon

Perusahaan seperti Spotify dan Amazon telah memperlihatkan bagaimana Agile dapat diterapkan secara efektif pada skala yang luas. Spotify, dengan model "Squad"nya, membagi organisasi ke dalam tim kecil yang bertanggung jawab atas bagian tertentu dari produk, memungkinkan mereka untuk beroperasi dengan fleksibilitas dan kecepatan tinggi. Sementara itu, Amazon menerapkan prinsip "Two Pizza Team", di mana setiap tim dibuat cukup kecil agar dapat diberi makan dengan dua pizza, mempromosikan efisiensi dan inovasi cepat.


Tantangan Implementasi

Meskipun ada banyak cerita sukses, beberapa perusahaan mengalami kekecewaan karena tidak mencapai hasil finansial yang diharapkan. Tantangan umum termasuk kesulitan dalam skala transformasi, resistensi budaya terhadap perubahan, dan kesulitan dalam menjaga kualitas dan kohesi saat organisasi tumbuh.


Keberhasilan transformasi Agile sangat bergantung pada komitmen dan kemampuan para pemimpin untuk mengadopsi dan mendorong prinsip-prinsip Agile dalam setiap aspek organisasi. Pemimpin harus proaktif dalam mengelola prioritas strategis dan memastikan bahwa hambatan birokrasi diminimalisir untuk memfasilitasi kerja tim yang efisien.


Dalam banyak kasus, struktur dan prosedur yang kaku menjadi penghalang utama dalam adopsi Agile. Pemimpin perlu mengidentifikasi dan mengeliminasi proses yang tidak perlu yang menghambat kemajuan dan fleksibilitas tim.



Strategi Implementasi Agile yang Efektif

Penting untuk menciptakan struktur tim yang jelas dan efisien yang mendukung tujuan Agile. Ini bisa melibatkan pengaturan ulang tim agar lebih otonom dan memiliki kontrol lebih besar atas proyek yang mereka kerjakan.


Memutuskan urutan mana yang harus diubah menjadi Agile terlebih dahulu adalah kunci. Hal ini harus didasarkan pada faktor-faktor seperti kesiapan tim, signifikansi strategis dari proyek yang mereka tangani, dan potensi dampak pada hasil bisnis.


Bosch merupakan contoh perusahaan yang berhasil mengintegrasikan Agile secara holistik. Dengan pendekatan bertahap dan terorganisir, Bosch berhasil mengimplementasikan Agile di berbagai departemen dan fungsi, meningkatkan kolaborasi dan inovasi di seluruh perusahaan.


Bagaimana Perusahaan di Indonesia Menerapkan Agile?

Untuk perusahaan di Indonesia yang berambisi mengimplementasikan atau mengoptimalkan Agile pada skala besar, langkah-langkah praktis berikut ini dapat membantu memastikan sukses transformasi mereka. Pendekatan ini memperhitungkan konteks unik pasar Indonesia, yang memerlukan adaptasi strategi untuk kebutuhan lokal dan tantangan ekosistem bisnis.


1. Pemahaman Mendalam tentang Prinsip Agile

Penting bagi perusahaan untuk tidak hanya mengadopsi alat dan teknik Agile, tetapi juga memahami filosofi dasar di balik prinsip-prinsip Agile. Sebagaimana pengalaman CIAS memberikan pendampingan kepada perusahaan, workshop dan sesi pelatihan harus diselenggarakan secara rutin untuk seluruh jajaran karyawan, dari eksekutif senior hingga staf operasional. Pelatihan ini harus meliputi:


  • Prinsip Dasar Agile: Mengajarkan tentang adaptabilitas, kolaborasi, proses iteratif, dan penekanan pada feedback pelanggan.

  • Simulasi dan Game Agile: Untuk membantu karyawan mempraktikkan prinsip-prinsip Agile dalam skenario yang dikontrol.

  • Sesi Tanya Jawab: Mengadakan sesi terbuka di mana karyawan dapat mendiskusikan kekhawatiran dan ide mereka mengenai Agile.

2. Keterlibatan Semua Level Organisasi

Agile harus dilihat sebagai perubahan budaya, bukan hanya perubahan metodologi. Dukungan dan keterlibatan dari puncak hingga dasar hierarki organisasi adalah kunci:


  • Pembentukan Tim Agile Champions: Membuat kelompok dari beberapa anggota yang sangat mendukung Agile di setiap departemen yang bertugas untuk memandu dan memotivasi rekan kerja mereka.

  • Keterlibatan Pemimpin Eksekutif: Para CEO dan manajer tingkat atas harus secara aktif terlibat, menunjukkan komitmen mereka melalui kehadiran dalam sprint review, atau bahkan berpartisipasi dalam daily stand-up.


3. Adaptasi dengan Konteks Sosial dan Bisnis Lokal

Setiap strategi harus disesuaikan untuk mengatasi tantangan yang mungkin muncul karena kondisi lokal:


  • Sesuaikan dengan Norma Bisnis Lokal: Misalnya, jika hierarki dan formalitas adalah norma bisnis, Agile mungkin perlu dimodifikasi untuk mencakup lebih banyak peran kepemimpinan dalam tim.

  • Manajemen Perubahan: Mengadopsi pendekatan yang bertahap dan informatif dalam mengimplementasikan Agile, dengan menyediakan sumber daya yang memadai dan waktu untuk adaptasi.

4. Pengembangan Proaktif Kepemimpinan Agile

Kepemimpinan dalam konteks Agile berbeda secara signifikan dari model tradisional. Perlu pemimpin yang bisa:


  • Melatih bukan memerintah: Mengembangkan keterampilan coaching untuk membantu tim menemukan solusi sendiri.

  • Memfasilitasi bukan memberi arahan: Pemimpin harus mampu menghilangkan hambatan yang dihadapi tim dan memfasilitasi komunikasi.

  • Menjadi Role Model: Pemimpin harus menunjukkan prinsip-prinsip Agile dalam setiap tindakan dan keputusan mereka.

5. Mengevaluasi dan Mengadaptasi

Setelah Agile diimplementasikan, penting untuk terus memantau dan menyesuaikan pendekatan:

  • Feedback Terus-menerus: Mengumpulkan dan menganalisis feedback dari semua stakeholder untuk meningkatkan proses secara berkelanjutan.

  • Evaluasi Berkala: Melakukan retrospektif secara berkala untuk mengidentifikasi apa yang berhasil dan apa yang tidak, serta untuk merencanakan peningkatan lebih lanjut.

Dengan menyesuaikan pendekatan Agile sesuai dengan kebutuhan dan tantangan khusus yang dihadapi oleh perusahaan Indonesia, organisasi dapat secara efektif meningkatkan responsivitas, inovasi, dan kepuasan pelanggan dalam skala yang lebih besar, sambil menavigasi kompleksitas pasar lokal.

CIAS sebagai hands-on consulting company telah membantu banyak perusahaan di Indonesia untuk menerapkan pendekatan agile. Sekarang giliran perusahaan Anda mendapatkan manfaatnya. Hubungi kami di sini untuk berkonsultasi lebih lanjut.



37 views0 comments

Comments


bottom of page