Asal Usul Design Thinking

Updated: Mar 10

Design Thinking memang mulai menjadi sangat populer atau mainstream di dunia bisnis di sekitar akhir 2000an, namun istilah ‘Design Thinking’ sendiri sebagai metode pemecahan masalah kreatif pertama kali diperkenalkan di awal dekade 1980an. Istilah Design Thinking berasal dari akademisi-akademisi seperti Bryan Lawson dan Nigel Cross yang mengamati bagaimana desainer seperti arsitek memecahkan permasalahan dengan pola pikir yang berbeda dengan para scientist atau engineer (pada saat itu). Di antara banyak hal, pertama mereka melihat bahwa desainer lebih fokus pada masa depan dan menciptakan baru dibanding sekadar mengelaborasi solusi yang sudah ada; kedua, mereka melihat bahwa desainer lebih cenderung mengembangkan solusi secara iteratif dibanding terlalu lama membuat solusi sempurna secara linear, di mana di setiap iterasinya desainer juga melibatkan masukan dari kliennya.


head-wheel-like people think-innovation with design thinking
Baca juga: Corporate innovation dimulai dari sini

Berdasarkan pengamatan mereka tersebut, para akademisi 1980an mulai beranggapan bahwa pola pikir para desainer lebih cocok untuk memecahkan permasalahan zaman modern yang bersifat kompleks, dinamis, dan ambigu, yang disebut juga wicked problems. Hal ini dikarenakan dalam memecahkan wicked problems, kita tidak bisa bergantung pada proses pemecahan masalah yang linear atau solusi masa lalu, melainkan kita harus mengembangkan solusi baru berdasarkan pemahaman mendalam mengenai customer dan secara iteratif atau berulang sampai ketemu solusi yang tepat.

Baca juga: Apa itu Design Thinking?

Kemudian di dekade 1990an, Design Thinking mulai memasuki dunia bisnis. IDEO, perusahaan konsultan dalam bidang desain produk dan industrial, merupakan salah satu perusahaan pertama yang sukses mengadopsikan Design Thinking untuk memecahkan wicked problems dalam konteks bisnis. Yang dilakukan IDEO adalah menggunakan Design Thinking untuk membingkai ulang wicked problems menjadi masalah yang human-centric dan fokus terhadap apa yang paling penting bagi customer sehingga mereka mampu menghasilkan produk-produk yang sukses di pasar.


Akhirnya, di awal dekade 2000, mulailah diterbitkan proses-proses Design Thinking yang dibakukan oleh berbagai akademi juga praktisi. Contohnya, IDEO mulai mempopulerkan Design Thinking dengan proses 3-tahapnya, yaitu inspiration, ideating, and implementing. Selain itu, Stanford University d.School juga menerbitkan proses 5-tahapnya, yang mana menjadi salah satu rujukan terpopuler sampai sekarang, yaitu Empathize-Define-Ideate-Prototype-Test. Di dekade 2010an, Design Thinking mulai menjadi mainstream dan variasi-variasi baru juga terus bermunculan seperti proses 4-tahap yang dikembangkan Prof. Liedtka dari University of Virginia: What is? What if? What wows? What works?

Baca juga: Mindset utama agile ways of working

Begitulah kurang lebih sejarah singkat terkait perkembangan Design Thinking. Intinya, proses Design Thinking selalu berevolusi untuk mengatasi wicked problems yang semakin ke sini menjadi semakin menantang.



Recent Posts

See All