3 Mindset Utama dalam Agile Ways of Working

Pernahkan Anda merasa bingung setelah CEO atau pimpinan memberikan arahan untuk segera mengimplementasikan Agile di perusahaan? Kira-kira, apa langkah pertama yang harus dilakukan?


Ada dua jalur yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan Agile. Yang pertama adalah jalur massal atau Agile Way of Working (cara kerja agile). Dan jalur kedua adalah jalur khusus atau Agile Project. Agile Way of Working mampu menjangkau lebih banyak orang. Sedangkan Agile Project dapat membantu memberikan hasil yang lebih konkret dengan jangkauan yang lebih kecil.



Kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai Agile Ways of Working atau cara kerja Agile. Baik di perusahaan maupun di organisasi yang Anda miliki. Sebelum membahas Agile Ways of Working, Anda perlu memahami bahwa pembahasan ini akan lebih banyak bicara mengenai mindset. Bukan hanya mindset yang dimiliki perusahaan, tapi juga mindset yang dimiliki oleh setiap orang yang berada di dalam perusahaan.


Ada tiga mindset utama yang menjadi ciri bahwa suatu perusahaan sudah mengimplementasikan agile.


Tiga mindset itu adalah Customer Centricity, Cadence, dan Collaborative.


Customer Centricity

Saat suatu perusahaan diisi oleh orang-orang yang sudah menerapkan agile dengan baik, secara otomatis setiap orang di dalamnya akan senantiasa berusaha memberikan value kepada customer. Perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan customer tidak terbatas pada orang saja, tapi juga fungsi-fungsi dan setiap pihak yang menikmati serta merasakan hasil kerja yang dilakukan.


Dalam penerapannya, Agile Way of Working tidak hanya menempatkan fokus pada hasil kerja dan pencapaian pribadi saja. Tapi juga bagaimana hasil kerja dan inisiatif yang dilakukan dapat memberikan manfaat pada pihak lain, khususnya kepada customer. Karena itulah mindset ini disebut sebagai Customer Centricity.


Cadance/Ritme

Jika Agile Way of Working telah diimplementasikan dengan baik oleh setiap orang di perusahaan, maka setiap orang akan secara sadar memiliki inisiatif untuk membuat atau menentukan siklus-siklus pendek dalam kerjanya. Siklus-siklus ini diperlukan agar proses inspect dan adapt dapat dilaksanakan dengan baik.


Proses inspect dilakukan untuk mengukur sejauh mana pekerjaan yang dilakukan mampu memberikan value kepada customer. Jika hasil inspect di siklus pendek menunjukkan hasil yang berlawanan dengan harapan, artinya ada adaptasi yang perlu dijalankan agar project bisa kembali on track. Setelah hasil sudah sesuai harapan, maka orang tersebut akan melakukan peningkatan kecepatan atau kualitas kerjanya.


Siklus ini akan terus berulang sepanjang project berjalan. Sehingga, tujuan perusahaan untuk memberikan value kepada customer bisa berlangsung dengan maksimal. Bukan hanya di akhir project, tapi juga di sepanjang siklus pendek atau ritme yang telah ditentukan tadi.


Collaborative

Mindset terakhir adalah collaborative. Orang yang telah mengimplementasikan cara kerja Agile akan lebih terbuka, baik dari segi pandangan, ide, cara kerja baru, bahkan bentuk kerja sama yang berbeda dan belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tentu saja semua hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan cara yang lebih efektif sehingga mampu memberikan value yang lebih konkrit kepada customer.


Seseorang yang telah menerapkan agile dalam cara kerjanya, tentu saja akan lebih membuka diri terhadap hal-hal baru. Termasuk jika cara kerja baru atau inisiatif yang diberikan berkaitan dengan posisinya sendiri. Dan meskipun inisiatif atau ide baru tersebut datang dari orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda dengannya. Sikap terbuka ini tentu saja bertujuan untuk mendapatkan cara-cara yang lebih efektif.


Baca juga:

Kriteria Perusahaan yang Agile

Automasi Pekerjaan Rutinitas Anda dengan RPA

Knowledge Management Tools for Company

PT Cipta Konsultan Internasional

CIAS Innovation Space. Graha Zima Unit B-5.

TB Simatupang No 21. Jakarta Timur. Indonesia. 13760

email: info@cias.co    phone: +62 21 2209 4835

Copyright 2020. All Rights Reserved.