Inovasi dengan Metode Design Thinking & Lean Startup
- CIAS

- Mar 22, 2021
- 3 min read
Updated: Dec 7, 2021

Dalam proses berinovasi, penggunaan Design Thinking sangat bisa dikomplemenkan dengan metode inovasi lain untuk membuat proses inovasinya lebih optimal lagi. Pada artikel Design Thinking & Agile Development, sempat dijelaskan bagaimana metode Agile Development bisa memperkuat proses fase pengembangan solusi, yakni prototype solusi yang sudah tervalidasi hasil Design Thinking bisa dibangun dan disempurnakan dengan optimal menggunakan Agile Development. Namun menurut buku The Innovator’s Method, ada satu lagi metode inovasi yang bisa dikomplemenkan ke dalam fase pengembangan solusi, yaitu Lean Startup. Berarti dalam fase pengembangan solusi ada 3 metode inovasi yang dijalankan? Design Thinking, Agile Development, dan Lean Startup? Kurang lebih seperti itu, tetapi tentu saja ada strategi khususnya terkait urutan penggunaannya agar implementasi ketiga metode tersebut lebih mudah.
Sebelum itu, akan dijelaskan sedikit dahulu mengenai Lean Startup. Pertama-tama saya ingin menekankan bahwa adanya kata startup bukan berarti metode ini hanya khusus untuk perusahaan startup, tetapi yang dimaksud startup ini lebih umum, yaitu upaya inovasi yang masih melibatkan banyak ketidakpastian, jadi tetap relevan untuk perusahaan non-startup. Secara simpel, metode Lean Startup ini digunakan untuk mengembangkan solusi inovasi dengan cepat melalui pendekatan Lean dan eksperimentasi. Yang dimaksud Lean atau ramping di sini ialah bahwa solusi yang dihasilkan sebaiknya seramping mungkin, dalam arti hanya mengandung hal-hal yang esensial bagi customer.
Dan karena konteks inovasinya masih serba tidak pasti, hal-hal yang esensial tersebut ditentukan melalui eksperimentasi atau testing dengan customer secara iteratif. Oleh karena itu, 3 tahap utama dalam satu iterasi Lean Startup adalah: Build-Measure-Learn. Dalam tahap Build, kita membangun prototype solusi yang cukup mengandung hal-hal yang kita asumsikan esensial bagi customer, lalu di tahap Measure kita uji cobakan prototype dan asumsi tersebut dengan pengukuran-pengukuran tertentu, dan di tahap Learn kita pelajar hasil pengukuran untuk menyimpulkan asumsi-asumsi mana yang benar dan salah sebagai pembelajaran yang tervalidasi, dan pembelajaran ini akan dimanfaatkan untuk perbaikan prototype saat Build di iterasi berikutnya. Iterasi 3-tahap tersebut kemudian diulang terus sampai menemukan solusi yang tervalidasi atau terbukti esensial atau diinginkan customer.
Dari penjelasan Lean Startup ini, bisa disimpulkan bahwa emphasis atau fokusnya dalam proses inovasi terhadap eksperimentasi solusi. Oleh karena itu, konsultan Gartner Research menyarankan bahwa iterasi build-measure-learn, Lean Startup dilaksanakan di antara Design Thinking dan Agile Development. Maksudnya bagaimana? Jadi dari iterasi awal Design Thinking, kita mungkin mendapatkan satu atau beberapa solusi yang belum sepenuhnya tervalidasi. Dari situ, kita bisa gunakan iterasi build-measure-learn kita mendapatkan prototype solusi yang tervalidasi, untuk kemudian dibangun dan disempurnakan dengan Agile Development. Beginilah bagaimana kita bisa mengsinergikan Design Thinking, Lean Startup, dan Agile Development dalam fase pengembangan solusi.
Seperti halnya dengan Agile Development, Lean Startup dapat mengkomplemen Design Thinking karena adanya kemiripan dari segi prinsip-prinsip mendasar. Pertama, pendekatan kedua metode yang berpusat pada user. Kedua metode sangat mementingkan perspektif user dan user testing yang ekstensif dalam mengembangkan solusi. Kedua, pendekatan kedua metode menekankan pentingnya untuk mendapatkan feedback customer sedini-dininya melalui prototyping demi menghindari pemborosan sumber daya akibat investasi terlalu besar terhadap sesuatu yang customer tidak inginkan. Oleh karena itu, yang disarankan adalah prototype kasar atau sederhana dahulu agar bisa cepat dibuat. Ketiga, kedua pendekatan mengemfasiskan pentingnya iterasi cepat agar cepat juga mendapatkan pembelajaran, terutama karena konteks inovasinya masih dipenuhi misteri dan ketidakpastian.
Dengan cepat mendapatkan pembelajaran itulah, walupun didapatnya melalui kegagalan, kesuksesan bisa lebih cepat diraih. Karena kesamaan-kesamaan prinsip inilah Lean Startup sering digunakan bersama Design Thinking untuk membuat proses inovasi lebih optimal, terutama dalam aspek experimentasi dan pengembangan solusi.




hitclub mình thấy dạo này hay được nhắc nên cũng bấm vào coi thử cho biết. Mình không rảnh ngồi đọc kỹ hay thử từng thứ đâu, chủ yếu xem cách họ làm giao diện với sắp xếp nội dung thôi. Vừa vào là thấy trang nhìn khá sáng và thoáng, không bị nhồi chữ hay rối mắt. Mấy phần thông tin được chia thành từng khối riêng nên lướt xuống khá dễ, kiểu nhìn phát là biết đoạn này nói về gì. Mình cũng thích cái menu đặt chỗ dễ thấy, chuyển qua lại giữa các mục nhanh, không phải mò nhiều. Nói chung cảm giác dùng kiểu “lướt cho vui” cũng ổn vì bố cục rõ ràng, nhất…
I’m into posts that don’t overcomplicate things, and this one felt super easy to follow without having to “study” it. I was reading on my phone and didn’t lose the thread, which is rare. Somewhere in the middle I hopped over to thedriftboss.com and it matched that same no-fuss vibe—everything’s pretty much where you expect it. The game description is straightforward too: it’s that one-button drifting deal where timing is the whole challenge, so you get the point immediately. I also liked that the page isn’t shouting at you with distractions, so you can actually focus on what you’re looking at. The way the headings break up the info makes it easy to scroll, and the “how to play” part…
kèo nhà cái 5 chuẩn dạo này thấy anh em bàn tán nên mình cũng ghé thử cho biết, kiểu xem giao diện có dễ theo dõi không thôi. Vào cái là thấy họ để bảng kèo bóng đá trực tuyến dạng bảng theo từng trận trong ngày, cập nhật liên tục nên lướt qua khá nhanh, không bị rối mắt. Mình cũng có đọc qua phần giải thích “kèo nhà cái là gì”, viết kiểu nhập môn nên ai không rành vẫn nắm được khái niệm cơ bản. Điểm mình thấy tiện nhất là tỷ lệ được chia rõ cho cả trận với hiệp 1 theo cột, nhìn một phát là so được luôn, khỏi phải bấm qua lại…
Artikel ini menarik banget soal kolaborasi metode inovasi. Kalau kalian lagi cari panduan serupa buat memahami proses praktis, mungkin bisa cek what to expect from a professional gua sha session sebagai referensi pendekatan yang terstruktur. Seru juga lihat gimana Design Thinking, Agile, dan Lean Startup bisa digabungin biar hasil inovasi makin efektif.
https://keonhacai33.com/ mình ghé thử cho biết vì thấy bạn bè hay nhắc, kiểu vào xem có gì hay ho không. Ấn tượng đầu là trang tập trung đúng chủ đề kèo nhà cái, có mấy bài giải thích khái niệm với cách bắt kèo nên đọc lướt cũng hiểu được ý chính, không bị “ngợp” như nhiều chỗ khác. Mình không ngồi đọc kỹ từng bài, chỉ kéo xuống xem bố cục thôi, thấy họ chia nội dung thành các khối khá rõ ràng, tiêu đề nổi nên nhìn phát biết đang nói phần nào. Cái mình thích là phần dữ liệu trình bày theo kiểu bảng/cột nên mắt quét nhanh, đỡ mỏi. Nói chung giao diện nhìn gọn và…