Inovasi dengan Metode Design Thinking & Lean Startup


three-young-architects-working-together-to build-measure-learn-with lean start up anddesign thinking.jpg

Dalam proses berinovasi, penggunaan Design Thinking sangat bisa dikomplemenkan dengan metode inovasi lain untuk membuat proses inovasinya lebih optimal lagi. Pada artikel Design Thinking & Agile Development, sempat dijelaskan bagaimana metode Agile Development bisa memperkuat proses fase pengembangan solusi, yakni prototype solusi yang sudah tervalidasi hasil Design Thinking bisa dibangun dan disempurnakan dengan optimal menggunakan Agile Development. Namun menurut buku The Innovator’s Method, ada satu lagi metode inovasi yang bisa dikomplemenkan ke dalam fase pengembangan solusi, yaitu Lean Startup. Berarti dalam fase pengembangan solusi ada 3 metode inovasi yang dijalankan? Design Thinking, Agile Development, dan Lean Startup? Kurang lebih seperti itu, tetapi tentu saja ada strategi khususnya terkait urutan penggunaannya agar implementasi ketiga metode tersebut lebih mudah.


Sebelum itu, akan dijelaskan sedikit dahulu mengenai Lean Startup. Pertama-tama saya ingin menekankan bahwa adanya kata startup bukan berarti metode ini hanya khusus untuk perusahaan startup, tetapi yang dimaksud startup ini lebih umum, yaitu upaya inovasi yang masih melibatkan banyak ketidakpastian, jadi tetap relevan untuk perusahaan non-startup. Secara simpel, metode Lean Startup ini digunakan untuk mengembangkan solusi inovasi dengan cepat melalui pendekatan Lean dan eksperimentasi. Yang dimaksud Lean atau ramping di sini ialah bahwa solusi yang dihasilkan sebaiknya seramping mungkin, dalam arti hanya mengandung hal-hal yang esensial bagi customer.


Baca juga: Inovasi dengan Design Thinking & Agile Development


Dan karena konteks inovasinya masih serba tidak pasti, hal-hal yang esensial tersebut ditentukan melalui eksperimentasi atau testing dengan customer secara iteratif. Oleh karena itu, 3 tahap utama dalam satu iterasi Lean Startup adalah: Build-Measure-Learn. Dalam tahap Build, kita membangun prototype solusi yang cukup mengandung hal-hal yang kita asumsikan esensial bagi customer, lalu di tahap Measure kita uji cobakan prototype dan asumsi tersebut dengan pengukuran-pengukuran tertentu, dan di tahap Learn kita pelajar hasil pengukuran untuk menyimpulkan asumsi-asumsi mana yang benar dan salah sebagai pembelajaran yang tervalidasi, dan pembelajaran ini akan dimanfaatkan untuk perbaikan prototype saat Build di iterasi berikutnya. Iterasi 3-tahap tersebut kemudian diulang terus sampai menemukan solusi yang tervalidasi atau terbukti esensial atau diinginkan customer.


Dari penjelasan Lean Startup ini, bisa disimpulkan bahwa emphasis atau fokusnya dalam proses inovasi terhadap eksperimentasi solusi. Oleh karena itu, konsultan Gartner Research menyarankan bahwa iterasi build-measure-learn, Lean Startup dilaksanakan di antara Design Thinking dan Agile Development. Maksudnya bagaimana? Jadi dari iterasi awal Design Thinking, kita mungkin mendapatkan satu atau beberapa solusi yang belum sepenuhnya tervalidasi. Dari situ, kita bisa gunakan iterasi build-measure-learn kita mendapatkan prototype solusi yang tervalidasi, untuk kemudian dibangun dan disempurnakan dengan Agile Development. Beginilah bagaimana kita bisa mengsinergikan Design Thinking, Lean Startup, dan Agile Development dalam fase pengembangan solusi.


Baca juga: Contoh Aplikasi Design Thinking di Industri Healthcare


Seperti halnya dengan Agile Development, Lean Startup dapat mengkomplemen Design Thinking karena adanya kemiripan dari segi prinsip-prinsip mendasar. Pertama, pendekatan kedua metode yang berpusat pada user. Kedua metode sangat mementingkan perspektif user dan user testing yang ekstensif dalam mengembangkan solusi. Kedua, pendekatan kedua metode menekankan pentingnya untuk mendapatkan feedback customer sedini-dininya melalui prototyping demi menghindari pemborosan sumber daya akibat investasi terlalu besar terhadap sesuatu yang customer tidak inginkan. Oleh karena itu, yang disarankan adalah prototype kasar atau sederhana dahulu agar bisa cepat dibuat. Ketiga, kedua pendekatan mengemfasiskan pentingnya iterasi cepat agar cepat juga mendapatkan pembelajaran, terutama karena konteks inovasinya masih dipenuhi misteri dan ketidakpastian.


Dengan cepat mendapatkan pembelajaran itulah, walupun didapatnya melalui kegagalan, kesuksesan bisa lebih cepat diraih. Karena kesamaan-kesamaan prinsip inilah Lean Startup sering digunakan bersama Design Thinking untuk membuat proses inovasi lebih optimal, terutama dalam aspek experimentasi dan pengembangan solusi.


Baca juga: Kenapa Perusahaan Saat Ini Butuh Design Thinking



Recent Posts

See All