• Indrawan Nugroho

Kritik Terhadap Design Thinking

Tidak bisa dipungkiri bahwa Design Thinking memiliki banyak sekali penggemar di seluruh dunia, namun sebagai hal yang populer, wajar bahwa kritiknya juga tidak sedikit. Seperti apa kritik-kritik terhadap Design Thinking? Apa yang paling dipersoalkan kritik-kritik tersebut? Dan yang lebih penting, seberapa jauh sebaiknya kita menanggapi kritik-kritik tersebut?

Banyak kritik datang dari komunitas desain, spesifiknya dari para desainer yang tidak setuju bahwa Design Thinking menggambarkan proses desain sebenarnya. Yang paling sering mereka persoalkan adalah bagaimana kerangka-kerangka tahapan Design Thinking yang populer saat ini membuat proses desain menjadi terlalu terstruktur, linear, dan rapih sehingga malah membatasi kreativitas. Para desainer tersebut beragumentasi bahwa proses desain sebenarnya itu berantakan, kompleks, dan non-linear, dan justru dari kekacauan itulah lahir desain-desain terbaik; sehingga proses desain sebenarnya tidak bisa direplikasikan begitu saja dengan sejumlah tahapan. Jadi menurut mereka proses pemecahan masalah yang banyak perusahaan sudah pakai saat ini tidak pantas untu disebut Design Thinking karena tidak merefleksikan esensi proses desain sebenarnya.


Ini adalah kritik yang menarik untuk dibahas. Kritik-kritik seperti ini emfasisnya adalah pada proses atau tahapan Design Thinking yang sering dipakai, prosesnya terlalu kaku, preskriptif, dan seterusnya. Namun bila kita merujuk kembali ke pelopor-pelopor Design Thinking seperti Tim Brown, yang sebenarnya paling diemfasiskan bukanlah tahapannya, tetapi mindset atau pola berpikir ala desainer-nya, yang mana dipercayai bisa membantu para bisnis dan institusi jauh lebih kreatif dan inovatif. Misalnya kita lihat lagi artikel Tim Brown dari 2008 yang mempopulerkan Design Thinking, yang ia tekankan terlebih dahulu adalah profil kepribadian seorang Design Thinker, bukan proses desain 3-tahapnya. Proses 3-tahap yang ia buat lebih ditujukan untuk memberikan orang non-desain cara praktis untuk mulai mempraktikan dengan mengembangkan profil kepribadian seorang Design Thinker, bukan untuk mensimplifikasi proses desain itu sendiri.


Baca juga: 5 Tahapan Design Thinking


Oleh karena itu, hampir semua proses tahapan Design Thinking yang dibuat selalu diberi catatan bahwa prosesnya dinamis dan boleh ‘lompat-lompat’ antara tahapnya karena sudah diantisipasikan bahwa semakin matang pola pikir desainer yang dimiliki seseorang, semakin ia akan dinamis dan non-linear dalam mempraktikan tahapannya. Hanya saja bagi pemula, sebaiknya diikuti dulu tahapannya dalam rangka pembelajaran. Meskipun demikian, kritik dari para desainer ada benarnya juga, dalam arti perusahaan-perusahaan tidak bisa sekadar mengimplementasi tahap-tahapnya secara steril tanpa juga membina perilaku-perilaku seorang Design Thinker. Kembali ke persoalan kritik ini, apakah kata ‘design’ tetap valid dalam istilah design thinking? Menurut saya masih karena aspirasinya ke arah situ walaupun belum semua orang mampu mencapainya.


Selain dari komunitas desain, banyak juga kritik datang dari praktisi dan akademisi bisnis. Mereka mengkritik kekurangan-kekurangan Design Thinking sebagai cara perusahaan berinovasi, seperti terlalu mengedepankan keinginan customer, kurang mempertimbangkan jangka panjang, kurang fokus pada pengembangan teknologi, kurang memikirkan implementasi, dan seterusnya. Kritik-kritik seperti ini memang cukup banyak, sehingga penting untuk kita memahami latar belakangnya. Kritik-kritik tersebut mulai banyak bermunculan karena adanya semakin banyak perusahaan yang terlalu mengagung-agungkan Design Thinking dan secara tidak kritis menerapkan Design Thinking seperti tool serbaguna yang bisa memecahkan semua permasalahan.


Baca juga: Design Thinking & Agile Development


Contohnya, Professor James Woudhuysen mengamati adanya perusahaan-perusahaan yang menggantikan model R&D mereka dengan Design Thinking sehingga aktivitas inovasi teknologi yang bersifat jangka panjang berkurang. Karena tren-tren seperti inilah, muncul kritik-kritik yang menginginkan perusahaan-perusahaan menggunakan Design Thinking dengan lebih kritis. Hal inilah yang perlu kita sadari, Design Thinking memang tidak ditujukan untuk dapat melakukan semua tipe inovasi atau berdiri sendiri. Oleh karena itu, Design Thinking tetap perlu disinergikan dengan tools inovasi lainnya agar perusahaan bisa optimal dalam berinovasi secara jangka pendek dan juga jangka panjang.


Jadi kesimpulannya, setelah memahami kritik-kritik terkait Design Thinking lebih lanjut, bahwa kebanyakan masalahnya lebih kepada pengguna Design Thinking yang kurang kritis dibanding Design Thinking itu sendiri. Karena itu saran saya, dibanding berhenti menggunakan Design Thinking, lebih baik kita belajar menggunakannya dengan lebih kritis dan juga mengsinergikannya dengan tools inovasi lainnya.


Baca juga: Contoh Aplikasi Design Thinking di Industri Telekomunikasi



PT Cipta Konsultan Internasional

CIAS Innovation Space. Graha Zima Unit B-5.

TB Simatupang No 21. Jakarta Timur. Indonesia. 13760

email: info@cias.co    phone: +62 21 2209 4835

  • LinkedIn
  • YouTube
  • Facebook
  • Instagram

Copyright 2020. All Rights Reserved.