Kenapa Budaya Inovasi itu Penting?

Updated: Mar 11


Seberapa banyak dari Anda pernah berupaya mengajak tim untuk berinovasi sebagai budaya keseharian tetapi malah ditanya, ‘untuk apa kita susah-susah inovasi hal baru? Bisnis aman-aman saja kok dengan kita terus melanjutkan apa yang sudah berjalan’? Mungkin banyak dari Anda pernah menghadapi situasi seperti ini dan mengalami kesulitan untuk menjawabnya dengan meyakinkan. Anda pun mungkin juga berpikir, ‘Iya juga ya, kalau bisnis masih aman, kenapa penting untuk kita segera mempraktikan budaya inovasi?’ Mari bersama kita gali lebih lanjut.

Sekelompok tim melihat sticky note di papan kaca

Sebelum kita bisa meyakini tim akan pentingnya budaya inovasi, kita juga harus mampu meyakini diri sendiri bahwa budaya inovasi memang harus segera dipraktikkan walaupun kondisi bisnis masih relatif aman. Hal pertama yang perlu kita sadari adalah bahwa semakin ke sini, budaya inovasi semakin menjadi keharusan karena ‘keamanan’ sebuah perusahaan dapat lebih mudah terancam atau menghilang. Salah satu penyebab utamanya adalah semakin banyaknya perusahaan-perusahaan ‘disruptor’ pasar, seperti banyaknya start-up, yang dapat bertumbuh dan merebut pasar dengan begitu cepat sehingga pemain-pemain lama pun berkesulitan menyainginya. Contoh menarik adalah grup-grup perhotelan di Amerika Serikat yang didisrupsi oleh Airbnb. Di tahun 2013, revenue Airbnb masih lebih rendah dari top 4 grup perhotelan, sekitar seperlima dari grup penduduk nomor satu yaitu Marriot. Dan hanya dalam waktu 5 tahun, Airbnb berhasil mengalahkan Hilton dari segi revenue sebagai grup penduduk nomor 2, dan juga mencapai 3/4 revenue Marriot. Jadi bagi Anda yang merasa aman saat ini, mulailah dipikirkan, kira-kira berapa lama lagi posisi perusahaan Anda di pasar akan aman.

Terkait keamanan perusahaan, perlu kita ketahui juga bahwa semakin ke sini, umur-umur ‘kejayaan’ sebuah perusahaan besar semakin memendek. Konsultan strategi Innosight, mempelajari tren 500 perusahaan dengan nilai pasar tertinggi di Amerika Serikat, yaitu S&P 500, dan melihat bahwa di tahun 1964, secara rata-rata perusahaan menetap di daftar S&P 500 selama 33 tahun, namun di tahun 2016 hanya 24 tahun, dan diproyeksikan di tahun 2027 (terlepas dari covid-19) akan hanya 12 tahun. Menyeramkan bukan? Selain karena terlalu lambat untuk merespon pesaing-pesaing disruptif, banyak perusahaan tidak bisa lama menetap di S&P 500 karena tidak melakukan inovasi terhadap model bisnisnya dalam menghadapi pasar-pasar baru, atau karena mereka gagal berinvestasi dalam inovasi jangka panjang. Bila kita lihat penduduk posisi nomor 2 di S&P 500 per saat ini, yaitu Apple, yang juga sudah hampir 40 tahun menetap di list, mereka bisa terus berjaya karena sudah terbiasa senantiasa berinovasi untuk jangka panjang. Contohnya, di tahun 2000 mereka sudah mulai berinovasi untuk tahun 2010 dengan mengembangkan Apple’s Digital Hub melalui produk-produk baru di luar PC, yang akhirnya membuahkan produk-produk pionir seperti iPod, iPhone, dan iPad.

Jadi, mari kita yakini lagi diri sendiri dan tim terkait pentingnya untuk segera mempraktikkan budaya inovasi walaupun bisnis masih terasa aman, karena di cuaca bisnis saat ini (terlepas dari covid), rasa aman tersebut bisa menghilang dengan sangat cepat, dan waktu tidak akan cukup bila kita hanya mulai membudayakan inovasi nanti saat kondisi tidak aman.


Baca juga:

Arti Budaya Inovasi di Perusahaan

Membangun Semangat Tim untuk Menerapkan Budaya Inovasi

Kreativitas Belum Tentu Sebuah Penemuan dan Inovasi


29 views0 comments

Recent Posts

See All