Arti Budaya Inovasi di Perusahaan

Inovasi menjadi harga mati untuk setiap perusahaan, tapi tak sedikit perusahaan-perushaan yang gagal menerapkan inovasi. Dan membangun budaya inovasi adalah kunci serta keharusan agar perusahaan tetap bertahan di era perubahan yang begitu cepat. Untuk membangun pondasi budaya inovasi yang kuat perlunya pemahaman yang mendalam mengenai budaya inovasi itu sendiri.

Berbicara soal budaya inovasi, mari kita samakan dahulu pemahaman tentang budaya perusahaan secara umum. Budaya ini memang merupakan sesuatu yang sangat abstrak dan sulit untuk dibayangkan. Karena sifat abstrak ini, budaya seringkali dideskripsikan dari segi perilaku, karena perilakulah wujud atau manifestasi dari suatu budaya yang mudah terlihat.


Meskipun demikian, kita perlu paham bahwa budaya bukan sekadar kumpulan perilaku, tetapi merupakan suatu ‘pola’ perilaku; dan pola perilaku ini terbentuk dari campuran banyak hal yang lebih tidak terlihat lagi, termasuk norma, values, dan yang paling tidak terlihat namun paling kuat pengaruhnya, apa yang disebut oleh pakar budaya organisasi Edgar Schein sebagai ‘underlying assumptions’ atau asumsi mendasar. Yang dimaksud asumsi ini adalah kepercayaan, opini, atau perasaan karyawan terkait ‘cara terbaik dalam menyelesaikan pekerjaan dan berinteraksi dengan sesama’. Jadi kalau kita bicara soal budaya inovasi, asumsi-asumsi apa saja yang membentuk pola perilaku atau budaya yang inovatif?

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan lebih mudah, bila kita kontraskan antara budaya inovasi dengan budaya eksekusi, seperti yang dilakukan Alexander Osterwalder dalam bukunya, ‘The Invincible Company’. Dalam bukunya, Osterwalder membandingkan kedua budaya tersebut dalam beberapa aspek asumsi, yaitu:


Pertama


Dari segi mindset. Dalam budaya inovasi, karyawan menganut ‘beginner’s mindset’ bahwa masih banyak yang belum diketahui sehingga mereka menerima tidak semua solusi atau projek akan sukses. Sedangkan dalam budaya eksekusi, karyawan mengandalkan pengalaman dan menganut ‘expert’s mindset’, sehingga mereka fokus menghindari kegagalan dalam perencanaan dan eksekusi.


Kedua


Dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian. Dalam budaya inovasi, karyawan menyambut risiko dan ketidakpastian, dan mengelolanya melaui eksperimentasi, belajar, dan adaptasi. Sedangkan dalam budaya eksekusi, karyawan menolak adanya risiko dan ketidakpastian, mereka minimalkan melalui perencanaan, eksekusi, dan manajemen.


Ketiga


Terkait menyikapi kegagalan, budaya inovasi menganggap kegagalan sebagai hal yang tidak dapat dihindari dalam proses eksplorasi, mereka menyambut, me-manage, dan belajar dari kegagalan. Sedangkan dalam budaya eksekusi, kegagalan tidak bisa diterima, sehinga perlu dihindari dan bahkan dihukum.

Namun, bukan berarti kita harus memilih antara budaya inovasi dan budaya eksekusi, karena budaya eksekusi tetap penting, hanya saja kedua budaya ini perlu diseimbangkan secara harmonis sehingga saling mendukung. Yang sering terjadi adalah perusahaan terlalu fokus pada budaya eksekusi dan mengabaikan pemeliharaan budaya inovasi. Semoga hal ini bisa kita hindari dengan pemahaman lebih kuat mengenai apa itu budaya inovasi.



PT Cipta Konsultan Internasional

CIAS Innovation Space. Graha Zima Unit B-5.

TB Simatupang No 21. Jakarta Timur. Indonesia. 13760

email: info@cias.co    phone: +62 21 2209 4835

Copyright 2020. All Rights Reserved.