• Indrawan Nugroho

Lima Area Penggunaan Design Thinking


Saat Design Thinking mulai digunakan di dunia bisnis oleh konsultan desain IDEO di dekade 1990an, penggunaan utamanya adalah untuk inovasi produk. Sekarang atau kurang lebih tiga dekade setelahnya, Design Thinking digunakan untuk banyak sekali tipe inovasi, baik di dunia bisnis mau pun sosial. Namun, pada artikel ini akan hanya membahas 5 area umum di mana Design Thinking sering digunakan.


Design Thinking bisa dipakai untuk apa saja?


Pertama, Design Thinking untuk mengembangkan produk baru

Dalam mengembangkan produk baru, kesulitannya biasanya permasalaannya bukan karena keterbatasan teknologi. Kesulitan yang biasa muncul adalah dalam mencari cara bagaimana teknologi yang ada bisa dijadikan produk yang dapat memberikan manfaat sebesar mungkin ke banyak orang. Untuk menemukan itu, kita harus betul-betul memahami orang-orang yang menjadi target customer Anda dan kebutuhan spesifik apa yang perlu dipenuhi. Terkait hal ini, Design Thinking sangatlah membantu.


Kedua, menciptakan servis atau layanan baru dengan Design Thinking

Inovasi servis pada umumnya melibatkan perubahan terkait bagaimana layanan diberikan, seperti layanan baru untuk konsultasi pelanggan, otomatisasi atau digitalisasi layanan, opsi pembayaran baru untuk pelanggan, dll. Karena layanan melibatkan interaksi-interaksi dengan customer yang mendalam, pendekatan yang human centered seperti Design Thinking dapat memberikan banyak sekali ide-ide baru untuk melakukan redesain atau peningkatan kualitas layanan.


Ketiga, Design Thinking bisa untuk merancang model bisnis baru

Pada dasarnya, inovasi model bisnis adalah mengubah cara perusahaan memberikan nilai tambah kepada customer, bagaimana menciptakan nilai tambah tersebut, dan bagaimana menghasilkan keuntungan dengan nilai tambah tersebut. Design Thinking akan memastikan bahwa model bisnis yang dirancang akan cocok dengan perilaku konsumen dan juga dengan jenis bisnis Anda. Jangan sampai produk atau layanan sudah terbukti disukai konsumen, tetapi model bisnisnya menyulitkan konsumen dan merugikan bisnis.


Baca juga: Design Thinking di Industri Beautycare


Keempat, Design Thinking untuk mendesain inovasi organisasi

Yang dimaksud inovasi organisasi adalah melakukan perubahan pada proses bisnis, sistem manajemen, atau infrastruktur organisasi agar karyawan dan stakeholder terkait dapat melakukan aktivitas atau pekerjaan mereka dengan lebih efektif dan efisien. Jadi Design Thinking tidak selalu untuk customer external, tetapi bisa untuk internal juga. Design Thinking memastikan bahwa proses inovasinya user-centric dan dua-arah, eksploratif dibanding hanya mengadopsi best-practice, dan eksperimentatif bukan asumtif.


Kelima, Design Thinking untuk mendesain inovasi sosial

Inovasi sosial adalah solusi untuk masalah dan tantangan sosial yang bukan didorong oleh penghasilan laba, biasanya di level komunitas. Bisa permasalahan pedesaan seperti malnutrisi, sanitasi, akses ke air dan listrik, dan bisa juga untuk permasalahan urban seperti kemacetan, polusi dan limbah, pendidikan. Metode Design Thinking memastikan bahwa permasalahan yang diatasi didefinisikan sesuai kebutuhan penduduk setempat dan solusi yang dikembangkan disesuaikan dengan konteks lokal, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak generik dan betul-betul diadopsi. Oleh karena itu, Design Thinking menjadi semakin populer juga di linkaran institusi pemerintah, NGO, lembaga sosial, dll.


Baca juga: Design Thinking vs Kaizen


Demikianlah gambaran umum terkait area-area penggunaan Design Thinking. Jadi Anda tidak harus menjadi orang produk untuk mempraktikan Design Thinking, saya yakin apa pun area kerja Anda, Design Thinking bisa diaplikasikan.



5 views0 comments

PT Cipta Konsultan Internasional

CIAS Innovation Space. Graha Zima Unit B-5.

TB Simatupang No 21. Jakarta Timur. Indonesia. 13760

email: info@cias.co    phone: +62 21 2209 4835

  • LinkedIn
  • YouTube
  • Facebook
  • Instagram

Copyright 2020. All Rights Reserved.