Hubungan Budaya Inovasi dengan Kinerja Bisnis

Menurut buku ‘Insider’s Guide to Culture Change’, budaya merupakan ‘a critical business enabler’. Peran budaya sangat penting untuk memungkinkan tercapainya kinerja bisnis yang optimal, terutama budaya inovasi. Seberapa kuat hubungan budaya inovasi dengan kinerja bisnis? Mari, baca artikel ini hingga selesai.


Untuk memahami hubungan budaya inovasi dengan kinerja bisnis lebih dalam, mari kita jawab menggunakan studi kasus terkait budaya inovasi di Amazon. Per saat ini, Amazon merupakan perusahaan dengan nilai pasar ketiga tertinggi di Amerika Serikat, setelah Microsoft dan Apple; namun berbeda dengan Microsoft dan Apple yang sudah berusia mendekati 50 tahun, usia Amazon bahkan belum mencapai 30 tahun. Kesuksesan Amazon yang luar biasa ini dikarenakan keberhasilan mereka dalam menjadi pionir dan mencapai keunggulan kompetitif di beragam industri, dan ini tidak akan bisa terjadi tanpa budaya inovasi yang secara solid dibentuk oleh CEO Jeff Bezos.


Pakar inovasi Yves Pigneur melakukan analisa terhadap surat-surat yang Bezos tulis kepada para shareholder Amazon dari tahun 1997 sampai 2018, dan menemukan bahwa Bezos selalu men-highlight 3 perilaku yang dibina dalam budaya inovasi Amazon, yaitu ‘willingness to fail’, ‘patience to think long term’, dan ‘customer obsession’. Dengan membina ketiga perilaku ini secara konsisten, Amazon dapat terus mencapai growth di atas rata-rata industry melalui inovasi-inovasi yang disruptif, seperti Amazon Marketplace, Amazon Prime, Amazon Web Services, dan banyak lainnya. Namun, bagaimana setiap perilaku dari budaya inovasi tersebut menunjang kinerja bisnis?


Pertama, perilaku ‘Willingness to Fail’. Karyawan Amazon mempercayai bahwa eksperimen yang dilakukan karena diketahui akan sukses tidak bisa disebut sebagai sebuah eksperimen, karena itu mereka selalu berani untuk bereksperimen dengan ide-ide inovasi yang berisiko. Amazon seringkali dikritik karena berinvestasi pada ide-ide inovasi di luar bisnis utamanya, namun karena keberanian inilah sekarang mereka sudah berhasil mendisrupsi berbagai macam industry di luar retail, seperti logistics, IT, streaming dan banyak lainnya.


Juga karena perilaku ‘Patience to Think Long Term’, mereka selalu sabar untuk mengedepankan long-term market leadership dibanding short-term profitability. Contohnya, sebelum mereka berhasil mengembangkan Amazon Marketplace, yang sekarang merupakan platform e-commerce di Amerika Serikat, mereka gagal dengan 2 platform e-commerce sebelumnya, pertama Amazon Auctions lalu Amazon zShops. Meskipun kegagalan Auctions dan zShops mengakibatkan kerugian, Amazon tetap mengedepankan potensi bisnis yang dapat diraih di sektor e-commerce dan terus beriterasi sampai akhirnya platform ketiga mereka, marketplace, sukses merebut pasar e-commerce dari E-bay.


Keberhasilan-keberhasilan ini tentunya juga ditunjang oleh perilaku mereka yang mengedepankan ‘customer obsession’ dibanding ‘competitor obsession’, sehingga mereka tidak sekadar berinovasi untuk mengikuti tren kompetitor, tetapi untuk memenuhi kebutuhan customer yang belum terpenuhi. Amazon bahkan sampai menciptakan industri baru, yaitu cloud computing, dengan Amazon Web Services; dan sampai saat ini masih mempertahankan leadership-nya karena 90-95% fiturnya dibuat berdasarkan kebutuhan customer. Jadi beginilah bagaimana budaya inovasi Amazon bisa membuatnya menjadi perusahaan besar yang pertumbuhannya paling cepat di Amerika Serikat.


Dengan contoh Amazon ini, semoga Anda dan tim sudah cukup mendapatkan gambaran bahwa budaya inovasi bisa sangat berpengaruh terhadap kinerja bisnis, sehingga disebut juga sebagai ‘critical business enabler’.




Baca juga:

Gaya Kepemimpinan yang Efektif untuk Budaya Inovasi

Cara Cari Ide Bisnis Baru

Cara Mudah Melakukan Proteksi Informasi Perusahaan

PT Cipta Konsultan Internasional

CIAS Innovation Space. Graha Zima Unit B-5.

TB Simatupang No 21. Jakarta Timur. Indonesia. 13760

email: info@cias.co    phone: +62 21 2209 4835

Copyright 2020. All Rights Reserved.