Cara Menentukan Level Product Owner (PO) dalam Agile project


Di dalam sebuah agile project terdapat peran yang paling esensial yakni Product Owner (PO). Mengapa demikian? Karena dengan kehadiran PO inilah semua akan saling terkait seperti pendanaan, hasil hingga dampak. Dalam literatur disebutkan PO merupakan One Single Wringable Neck, artinya PO sebagai individu yang siap untuk dicekik lehernya apabila squad tidak menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan.


Lalu, PO harus pada yang level seperti apa ketika tengah menjalankan agile project di sebuah perusahaan? Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai peran sentral dari PO yang dapat menjadi pertimbangan serta membantu dalam rangka menentukan level dari PO itu sendiri. Karena dengan hadirnya seorang PO maka dapat memberikan dampak terhadap berjalannya sebuah agile project. Oleh karena itu, beberapa faktor yang dapat menjadi penentu level seorang PO yakni terbagi menjadi dua:


1. Faktor Decision Making


PO dapat berperan sebagai seorang yang dapat mengambil keputusan tertentu. Artinya PO memiliki peran dalam menentukan produk mana yang akan disampaikan kepada squad, ataupun produk yang akan menjadi prioritas sehingga menjadi lebih dulu dilakukan maupun ditunda. Kemudian PO juga dapat menentukan produk mana yang diyakini memberikan manfaat termasuk yang berkaitan dengan penyusunan rencana.


Baca juga: Hal Yang Dapat Menghambat Penerapan Agile di Perusahaan


Selain itu, PO juga memanikan perannya sebagai pengambil keputusan termasuk dalam Return on Investment (ROI) dari sebuah agile project. PO akan diminta pertanggungjawaban melalui perannya sebagai pengambil keputusan termasuk mencakup area anggaran, perekrutan dan pengelolaan squad member, hingga akses pada infrastruktur perusahaan.


Sebagai contoh, di dalam perusahaan terdapat sebuah aturan bahwa manajer ataupun General Manager (GM) memiliki batasan untuk mengambil keputusan mengenai sebuah anggaran sejumlah sekian rupiah. Maka dari situ kita dapat menghubungkannya dengan squad mission terkait batasan jumlah rupiah melalui pengambilan keputusan oleh PO.


Kalau sebuah PO mengambil keputusan hanya akan membatasi hingga sampai pada GM, maka di level GM lah seorang PO menentukan. Cakupan kerja PO tersebut juga termasuk di dalamnya terkait area menpower dan akses-akses terhadap sumber dan infrastruktur tertentu.


2. Faktor Building Alliance


Sebagaimana yang diketahui, ketika tengah membuat sebuah agile project, maka perlu untuk menentukan misi, membentuk tim serta tidak tertinggal mengenai perlunya untuk membangun aliansi. Aliansi dengan siapakah? Tentunya aliansi yang dimaksud yakni berhubungan dengan berbagai pihak yang memang terkait squad mission.


PO dalam hal ini memiliki peran sentral dalam membentuk aliansi, baik yang berhubungan dengan lintas direktorat maupun dengan menjalin hubungan dengan pihak-pihak di luar perusahaan. Dalam hal inilah patut untuk dipertimbangkan pada level apa seorang PO yang tepat untuk menjalankan perannya dalam membangun aliansi. Melalui kepentingan dan rangka menjalankan peran untuk membentuk aliansi itulah yang menjadi takaran PO dalam mendukung squad mencapai misinya.


Baca juga: Kenapa Perusahaan Perlu Implementasi Agile Innovation Project?


Oleh karena itu, kedua faktor di atas yakni decision making dan building alliance dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi Anda dalam rangka memulai agile project. Dengan begitu Anda akan lebih mudah untuk menentukan kehadiran PO akan berada pada level yang seperti apa. Jadi, ketika ingin memulai agile project tentukanlah POnya berada pada pada level yang seperti apa, decision making atau building alliance.


Demikian pembahasan kali ini terkait faktor yang dapat menjadi bahan pertimbangan saat Anda ingin memulai sebuah Agile project.



6 views0 comments

Recent Posts

See All