Hal Yang Dapat Menghambat Penerapan Agile di Perusahaan



Dalam menjalankan agile project ada beberapa hal yang berpotensi menjadi batu sandungan atau hal-hal yang dapat menghambat kesuksesan peneran agile di perusahaan. Pastikan Anda terhindar dari hal-hal tersebut agar pendekatan agile dapat dirasakan manfaatnya secara konkret.


Baca juga: Batu Sandungan dalam Agile Project (bagian 1)


1. Silo

Dalam squad agile, sebuah spirit tidak berlaku hirarki atau dapat dikatakan setara. Namun bagaimana silo terjadi dalam agile squad? Sebagai contoh, agile squad dengan sembilan member terbagi menjadi tiga kelompok yakni, teknis, pemasaran (marketing) dan penunjang (support) guna perencanaan menjadi efektif.


Mungkin spirit awal tidak barmaksud untuk silo akan tetapi ketika didapati tugas-tugas yang tidak terselesaikan meskipun dengan pembagian tiga kelompok maka kolaborasi yang seharusnya terjadi justru terhenti. Hal itu terjadi karena masing-masing peran hanya melihat tugas-tugas yang ada dalam lingkupnya saja, padahal spirit tim squad dapat lintas tugas yang tidak mesti sesuai dengan bidangnya masing-masing.


2. Rencana terlalu rinci

Di setiap awal durasi pendek atau sprint terdapat sebuah proses perencanaan, proses tersebut terkadang dilakukan bertele-tele dan dibahas terlampau detail dengan harapan pelaksanaannya menjadi lancar. Akan tetapi, sprint planning yang tidak selesai pada saat pemeriksaan mekanisme di rapat dapat menjadikan squad belum memahami tugas dengan jelas, pada akhirnya dapat berakibat ketidakproduktifan dalam squad pada suatu periode tertentu.


Baca juga: Empat Variabel Penting Agile Innovation Project


Rencana yang terlalu besar untuk mencapai outcome pendek pun dapat berisiko terbawanya banyak outcome lain. Tidak hanya itu, risiko lain juga beradampak pada moral dan motivasi tim yang berpotensi membuat pencapaian misi menjadi tidak tercapai.


3. Terjebak dalam ritual

Ketika agile project berjalan, kadangkala squad member atau product owner (PO) berusaha untuk tetap menjalankan ritual-ritual yang biasa dilakukan namun kehilangan esensi dari kegiatan. Ketika fokus pada hal-hal yang dijalankan untuk memenuhi ritual tanpa fokus pada esensi, maka akan membuat squad menjauh dari pola pikir dan prinsi-prinsip fundamental agile. Hal itu dapat berakibat pada tidak terasanya manfaat kerja agile.



4. Backlog

Sejatinya backlog baru akan benar-benar dibahas saat sprint plannig dan menjadi tugas seorang PO (Product Owner) untuk menyiapkan input dari sprint planning. Nantinya, PO menjelaskan backlog pada squad member yang dilanjutkan dengan mendefinisikan tugas-tugas, termasuk proses pelemparan tugas dan pendefinisian beberapa atribut tugas tersebut.


Namun, ketika backlog baru dibahas ketika sprint planning, proses yang ada akan menjadi berlarut-larut dan lama. Lebih parah, akan terjadi diskusi yang tidak seharusnya terjadi saat proses sprint planning. Manakala terjadi, sprint berpotensi besar tidak mencapai outcome dan akan berlajut pada durasi-durasi pendek berikutnya.


5. Sprint Review

Sprint review bertujuan untuk mengevaluasi ketercapaian backlog yang sudah direncankan di awal. Sebuah backlog haruslah memiliki nilai yang konkret baik untuk pelanggan maupun stakeholder, oleh karenanya peninjauan kembali terhadap durasi pendek harusnya dilakukan bersama penerima manfaat dari backlog.


Baca juga: Kenapa Perusahaan Perlu Implementasi Agile Innovation Project?


Ketika itu tidak terjadi, maka squad seakan hanya meninjau berdasarkan persepektif squad member saja dan manfaat yang diperuntukkan untuk pelanggan menjadi tidak terwujud. Squad dianggap tidak berprogres karena tidak adanya proses komunikasi dan penyemapaian backlog yang menjadikan esensi dari agile tereduksi.


6. Terikut Proses Waterfall

Pada awal membuat backlog mungkin squad berhasil tidak terjebak proses waterfall (berurutan) dalam Business as Usual (BAU), namun ketika proses mengharuskan untuk dijalankan ke BAU atau fungsi di luar squad? Di titik itulah squad acap kali tidak mencari cara yang berbeda agar tidak tersandera waterfall dalam BAU. Padahal, agile squad dibentuk untuk menemukan cara-cara yang efektif dan tidak waterfall sehingga dapat menghasilkan nilai yang cepat dirasakan oleh pelanggan.


Itulah keenam batu sandungan yang sering terjadi dalam menjalankan agile project, semoga dapat menjadi perhatian untuk lebih berhati-hati dan dapat mencapai misi yang telah ditentukan.



Recent Posts

See All