Contoh Aplikasi Design Thinking di Industri Consumer Goods

Dalam artikel ini, kita akan mengangkat kasus aplikasi Design Thinking di industri consumer goods. Barang konsumen spesifik yang akan dibahas dalam kasus ini adalah barang yang bisa dibilang semua dari kita pakai setiap hari, yaitu sikat gigi. Salah satu merek sikat gigi yang aktif berinovasi juga merupakan salah satu merek sikat gigi yang tertua, yaitu Oral-B.

Sejak decade 90an, Oral-B sudah beberapa kali melahirkan inovasi-inovasi sikat gigi yang sukses dengan para konsumen karena menggunakan pendekatannya yang human-centered, yaitu dengan Design Thinking. Dalam video ini saya akan mengangkat 2 contoh inovasi Oral-B, dan kedua contoh tersebut sama-sama menunjukan bahwa Design Thinking bisa membuat proses inovasi lebih simpel tetapi di saat bersamaan jauh lebih berdampak. Ingin tau bagaimana Oral-B berinovasi dengan Design Thinking?


Inovasi pertama yang saya akan bahas adalah bagaimana Oral-B membuat desain sikat gigi baru khusus untuk anak-anak. Bila beberapa dari Anda sadari, sebelum akhir decade 1990an, sikat gigi anak-anak bentuknya kurang-lebih sama dengan sikat gigi orang dewasa yang kurus, hanya saja lebih pendek; jadi bagian bawahnya tidak gemuk seperti yang kita biasa lihat sekarang. Perubahan desain tersebut terjadi di tahun 1996, ketika banyak orang tua komplain bahwa anak-anaknya sulit sekali diminta menyikat gigi. Oral-B melihat hal ini sebagai peluang untuk mengubah desain sikat gigi anak mereka dan meningkatkan pangsa pasar.


Baca juga: Contoh Aplikasi Design Thinking di Industri Beauty


Untuk menciptakan desain baru ini, Oral-B memilih untuk bekerja sama dengan konsultan desain, IDEO; dan Oral-B cukup kaget ketika mendengar apa yang IDEO minta mereka lakukan, yaitu mengunjungi rumah-rumah keluarga dan mengobservasi bagaimana anak-anaknya menyikat gigi. Tim Oral-B merasa sudah memahami bagaimana anak-anak menyikat gigi, yakni sama saja dengan orang dewasa, namun IDEO tidak ingin berasumsi. Oral-B setuju dan akhirnya tim melakukan kunjungan-kunjungan empathize untuk mencari tahu apa yang anak-anak lakukan berbeda ketika menyikat giginya.


Dari kunjungan tersebut, tim teryakini bahwa menyikat gigi adalah aktivitas yang tidak enak, sulit, dan melelahkan bagi anak-anak, dan mereka jadi tahu kenapa. Temuan utama yang mereka dapatkan adalah bahwa anak-anak memegang sikat gigi dengan cara yang berbeda dari orang dewasa. Anak-anak memegang sikat gigi dalam kepalan tangannya, bukan dengan jari-jari seperti orang dewasa. Setelah memahami permasalahannya, tim mencoba membuat desain baru yang nyaman untuk digenggam anak-anak.


Baca juga: Inovasi Bank of America Melalui Design Thinking


Solusi yang akhirnya ditemukan adalah ‘The Squish Gripper’ atau pegangan yang nyaman diremas. Jadi pegangannya dibuat gemuk agar pas untuk digenggam dan diberikan lapisan karet yang halus dan bertekstur agar nyaman dan mudah digenggam. Selain itu, desainnya diberikan warna-warna terang dan gambar-gambar lucu agar secara estetika lebih menarik bagi anak-anak. Saat prototipenya diuji cobakan dengan anak-anak hasilnya positif, anak-anak merasa lebih nyamanan menyikat gigi dan hasil sikatnya jadi lebih bersih. Saat dirilis, desaign baru ini sangat sukses di pasar dan juga mengubah bagaimana pemain lain membuat sikat gigi anak.


Oral-B juga menggunakan Design Thinking beberapa tahun lalu untuk memperbaharui desain sikat gigi elektriknya. Selain Oral-B, banyak merek-merek consumer goods lainnya yang ingin mengikuti tren digitalisasi dengan membuat produknya “smart” atau secanggih mungkin. Akibatnya, banyak yang sekadar menambahkan fitur-fitur yang terlihat keren di brosur penjualan tetapi sebenarnya tidak berarti ketika digunakan dalam keseharian. Hal yang sama hampir terjadi kepada Oral-B. Ketika Oral-B pertama menceritakan keinginan mereka ke konsultan desain, Future Facility, Oral-B mengingkan sikat gigi elektrik yang diberikan teknologi pelacakan-data sehingga mampu menilai seberapa sikat giginya sudah bersih, memberikan informasi terkait sensitivitas gusi mereka, dan memainkan musik.


Future Facility merasa Oral-B belum begitu memikirkan pengalaman pelanggan, sehingga Future Facility meyakinkan Oral-B untuk lebih fokus memikirkan bagaimana penambahan teknologi dapat menyelesaikan sejumlah frustrasi besar yang dimiliki pelanggan. Setelah melakukan proses empathize ada 2 frustrasi utama yang dimiliki pelanggan. Pertama, ketika baterai sikat giginya habis, terutama ketika dalam perjalanan. Maka dari itu, Oral-B menambahkan fitur USB-charging agar pengguna bisa lebih mudah mengisi baterainya di mana pun dengan bantuan gadget mereka.


Baca juga: Contoh Aplikasi Design Thinking di Industri Healthcare


Frustrasi satu lagi adalah bagaimana pengguna sering kelupaan untuk memesan kepala baru, sehingga tidak punya pengganti ketika kepalanya sudah tidak bagus. Solusi yang dibuat untuk permasalahan ini adalah aplikasi yang terkoneksi ke sikat giginya via Bluetooth. Jadi ketika pengguna menyadari kepalanya sebentar lagi harus diganti, ia cukup menekan tombol pada sikat giginya, yang kemudian akan mengirimkan pesan notifikasi ke HP pengguna yang mengingatkannya untuk membeli kepala baru. Karena Design Thinking, hasil akhirnya adalah produk yang berhasil membuat konsumen lebih senang dengan kadar penambahan teknologi yang pas, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.


Dua contoh inovasi Oral-B menunjukan bahwa fokus Design Thining terhadap customer bisa mencegah proses inovasi menjadi terlalu kompleks, karena memfokuskan kita untuk mengidentifikasi perubahan desain yang benar-banar harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan. Dampaknya, inovasi yang dilakukan mungkin tidak banyak, tetapi peningkatan penjualan yang dihasilkan bisa sangat tinggi.



6 views0 comments

PT Cipta Konsultan Internasional

CIAS Innovation Space. Graha Zima Unit B-5.

TB Simatupang No 21. Jakarta Timur. Indonesia. 13760

email: info@cias.co    phone: +62 21 2209 4835

  • LinkedIn
  • YouTube
  • Facebook
  • Instagram

Copyright 2020. All Rights Reserved.