top of page

Memperkuat Inovasi Perbankan melalui Strategic Innovation Project

Tantangan utama yang dihadapi industri perbankan di Indonesia


Dalam lima tahun terakhir, sektor perbankan Indonesia mengalami transformasi yang cukup besar dari sisi digitalisasi. Menurut data Bank Indonesia, nilai transaksi digital banking mencapai Rp 58.478 triliun sepanjang 2023 dan terus meningkat pada 2024. Namun di balik pertumbuhan itu, banyak bank menghadapi tantangan serius terkait kualitas layanan digital, kemampuan teknologi internal, serta keterbatasan organisasi dalam berinovasi.



Masalah terbesar bukan hanya pada sisi teknologi, melainkan pada cara bank mengelola inovasi itu sendiri. Sebagian besar proyek digital berhenti pada tahap pilot, tidak pernah mencapai adopsi massal atau integrasi ke proses bisnis utama. Studi IFG Progress mencatat bahwa hingga 2023, sekitar 41 persen bank di Indonesia masih berada dalam fase tradisional dengan tingkat digitalisasi terbatas. Hanya 39 persen yang masuk kategori non-tradisional dan benar-benar menjalankan strategi digital sebagai fondasi bisnis.


Sementara itu, kompetisi dari fintech dan bank digital semakin menguat. Laporan BCG tahun 2022 menyebut bahwa jumlah pemain fintech di Indonesia tumbuh lebih dari enam kali lipat dalam satu dekade. Hal ini menandakan bahwa inovasi bukan lagi keunggulan tambahan, melainkan prasyarat agar bank tetap relevan. Di sisi lain, banyak bank memiliki sistem lama yang sulit diubah, struktur organisasi yang kaku, dan keterbatasan budaya eksperimen. Kombinasi ini menjadikan inovasi sulit untuk dijalankan dengan konsisten.



Peran Strategic Innovation Project dalam menjawab kebutuhan inovasi


Strategic Innovation Project, atau SIP, merupakan pendekatan yang dirancang untuk menjawab tantangan tersebut secara praktis dan terstruktur. SIP bukan sekadar inisiatif teknologi atau workshop ideasi, tetapi sebuah kerangka kerja yang memungkinkan bank mengembangkan solusi baru secara bertahap, terukur, dan berbasis data lapangan.


Salah satu keunggulan utama SIP adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara eksperimen dan pengendalian risiko. Bank tidak perlu mengubah sistem besar sekaligus. Justru, pendekatan ini mendorong pengujian solusi dalam skala kecil, kemudian diperluas jika terbukti berhasil. Dengan cara ini, kegagalan bisa dikelola sejak awal dan pembelajaran bisa diperoleh lebih cepat.


McKinsey dalam laporannya tentang digital banking di Asia Tenggara menekankan pentingnya mengembangkan "test and learn culture" di institusi keuangan. Budaya seperti ini membutuhkan struktur yang jelas dan waktu yang cukup agar inovasi tidak sekadar menjadi inisiatif musiman. SIP menjawab kebutuhan itu dengan siklus kerja yang menggabungkan diagnosa masalah, pengembangan prototipe, pengujian di lapangan, serta iterasi berkelanjutan.



Tahapan pelaksanaan SIP di sektor perbankan


Langkah pertama dalam SIP adalah melakukan diagnosis mendalam terhadap masalah bisnis. Contohnya, jika konversi onboarding digital rendah, tim harus memetakan alur pengguna mulai dari unduhan aplikasi hingga aktivasi rekening. Data funnel, wawancara pengguna, dan observasi proses internal menjadi dasar untuk menyusun pernyataan masalah yang tajam dan terukur.


Setelah masalah terdefinisi, tim lintas fungsi dari produk, teknologi, legal, operasional, dan compliance melakukan ideasi bersama. Solusi kemudian dikembangkan dalam bentuk prototipe ringan, seperti dashboard monitoring, chatbot interaktif, atau sistem verifikasi dokumen berbasis OCR. Prototipe ini diuji di segmen terbatas, misalnya 5.000 pengguna baru dalam 2 hingga 4 minggu.


Selama masa uji coba, tim memantau metrik utama seperti tingkat konversi, waktu verifikasi, dan jumlah pengguna yang gagal menyelesaikan proses. Jika hasilnya positif, solusi masuk ke fase pengembangan agile dengan sprint dua mingguan, pengujian terstruktur, dan penyesuaian berkelanjutan. Pada fase akhir, solusi diintegrasikan ke sistem produksi, disertai pelatihan tim operasional dan penyusunan SOP baru.


Sebagai ilustrasi, pendekatan serupa telah diterapkan oleh bank digital seperti Bank Jago. Dengan mengembangkan fitur-fitur berbasis perilaku pengguna dan mendorong kolaborasi terbuka dalam ekosistem digital, mereka berhasil menciptakan pertumbuhan pengguna yang cepat dan loyalitas yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa inovasi yang berakar dari kebutuhan pengguna dan dijalankan secara terukur akan lebih berhasil daripada pendekatan top-down yang spekulatif.



Membangun sistem inovasi yang berkelanjutan bersama CIAS


Banyak bank memiliki ide yang baik, tetapi kesulitan mengeksekusinya karena terbatasnya kerangka kerja dan sumber daya internal. CIAS hadir untuk menjembatani kebutuhan ini. Kami membantu bank menjalankan SIP dengan struktur yang jelas, ritme kerja yang terukur, dan fokus pada hasil nyata. Pengalaman kami di sektor keuangan membuat kami memahami dinamika unik yang dihadapi institusi perbankan, termasuk aspek regulasi, manajemen risiko, dan integrasi dengan sistem core banking.


Kami tidak hanya membantu merancang solusi, tetapi juga memfasilitasi sesi kerja lintas fungsi, mendampingi pengujian lapangan, serta mendesain model eksekusi yang bisa diwariskan ke tim internal Anda. Dengan SIP, transformasi tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, tetapi fondasi untuk membangun sistem inovasi yang berjalan terus-menerus.


Jika organisasi Anda sedang mempertimbangkan cara terbaik untuk membawa inovasi dari wacana ke eksekusi nyata, kami terbuka untuk berdiskusi. Anda dapat menghubungi CIAS di sini untuk menjadwalkan sesi eksplorasi awal bersama tim kami. Kami akan bantu merumuskan langkah pertama yang paling relevan dan realistis sesuai dengan prioritas bisnis Anda.

 
 
 

Comments


bottom of page