Mengenal Agile Marketing dan Perbedaannya Dengan Traditional Marketing

Menurut Anda, apa faktor utama kesuksesan sebuah bisnis? Hampir pasti, setiap orang memahami bahwa marketing adalah kunci utama dalam membangun sebuah bisnis. Sayangnya, pembahasan mengenai Agile Marketing seringkali tidak sebanyak Agile Innovation atau Agile Product Development.


Tapi, kenapa Agile Marketing menjadi penting?


Pandemi membuat kita menyadari bahwa dunia bergerak begitu cepat. Begitu juga dengan ekspektasi, preferensi, dan kebutuhan pelanggan. Perubahan ini tidak akan bisa dikejar jika proses marketing tetap dijalankan menggunakan traditional marketing.


Apa Itu Agile Marketing?


Sebelum membahas lebih jauh mengenai agile marketing, Anda perlu memahami lebih dulu, apa itu Agile Marketing. Atau apa yang dimaksud dengan agile dalam konteks marketing. Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda dapat melihat dari pernyataan McKinsey mengenai agile marketing.


McKinsey mengatakan bahwa Agile dalam konteks marketing berarti menggunakan data dan analitik untuk mencari kesempatan baru. Bukan hanya itu, Agile marketing juga digunakan untuk mencari solusi secara real time dari permasalahan yang ada.


Baca juga: Hal Yang Dapat Menghambat Penerapan Agile di Perusahaan


Penerapan agile dalam marketing juga membantu brand atau organisasi untuk melakukan serangkaian tes, mengevaluasi hasil, dan melakukan iterasi terhadap solusi yang ada secara cepat. Sehingga, bukan mustahil jika organisasi yang menerapkan agile dapat menghasilkan ratusan campaign dan ide baru setiap pekan.


3 Ciri Utama Agile Marketing


Ada 3 ciri utama agile marketing yang dapat Anda jadikan acuan. Yaitu customer driven, flexible and creative, serta iterative and accountable.


1. Customer Driven

Sebuah organisasi atau perusahaan yang menerapkan agile marketing tidak akan membuat campaign karena merasa campaign tersebut bagus. Setiap campaign dilakukan sesuai dengan data yang ada dan telah teruji pada customer.


2. Flexible and Creative

Agile marketing meletakkan fokus pada suara konsumen. Karena itu, perubahan akan sangat mungkin terjadi. Dan rencana yang dibuat perlu menyesuaikan dengan hal tersebut. Di lain sisi, proses kreatif juga akan terus berjalan dan ide baru sangat mungkin untuk dihasilkan.


3. Iterative and Accountable

Perubahan dalam agile adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Karena itu, pengukuran perlu dilakukan secara berkala. Selain itu, setiap anggota tim dalam agile memiliki kepentingan akan keberhasilan program. Sehingga, tim tersebut memiliki kapabilitas untuk memberikan hasil yang luar biasa.


4 Perbedaan Agile Marketing dan Tradisional Marketing


Lalu, bagaimana membedakan agile marketing dengan tradisional marketing. Sebenarnya, perbedaan agile marketing dan tradisional marketing cukup terlihat. Namun, ada 4 aspek yang membuat keduanya sangat berbeda. Yaitu time frame, cadence, eksekusi, dan assets.


1. Perbedaan Time Frame

Dalam tradisional marketing, time frame yang dibutuhkan cenderung panjang. Bahkan bisa mencapai 6 bulan hingga 12 bulan. Setiap program dijalankan dengan design di awal, eksekusi, kemudian evaluasi di akhir. Iterasi pada sistem tradisional marketing umumnya dilakukan secara tidak mendalam.


Baca juga: Cara Mengukur Agile Dashboard


Sedangkan time frame dalam agile marketing bersifat real time. Selama produk tersebut masih berada di pasaran, maka iterasi, marketing, dan pembelajaran akan terus berjalan.


2. Perbedaan Cadence

Dalam tradisional marketing, evaluasi biasa dilakukan dua kali per tahun. Sedangkan dalam agile marketing bisa dilakukan setiap hari. Sehingga kesempatan dan ancaman bisa direspon secara cepat.


3. Perbedaan Execution

Selanjutnya, perencanaan anggaran pada traditional marketing dan agile juga sangat berbeda. Tradisional marketing menjalankan sistem perencanaan anggaran yang bersifat fix atau rigid. Jika suatu anggaran sudah ditetapkan untuk kebutuhan X, maka anggaran tersebut harus dapat terserap sepenuhnya untuk kebutuhan X.


Sedangkan dalam agile marketing, perencanaan anggaran akan menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Sehingga adjustment dapat dilakukan kapan saja secara real time.


4. Perbedaan Assets

Traditional marketing menitikberatkan pada sesuatu yang bersifat artefak dan terlihat. Baik iklan, jingle, packaging, event, dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut bukan sesuatu yang buruk. Khususnya jika tujuannya adalah awareness.


Baca juga: Agile Innovation project-based Learning mendapat penghargaan dari DISRISTEK


Akan tetapi, ketika hampir seluruh perusahaan dan brand melakukan hal tersebut, customer akan menganggapnya sebagai noise atau gangguan. Karena itu, agile menitikberatkan pada konten atau value yang diberikan pada customer. Karena itu, iterasi menjadi sesuatu yang penting.


Terakhir, McKinsey juga menyatakan bahwa penerapan agile marketing dalam sebuah bisnis dapat membantu bisnis tersebut bertumbuh hingga 4x lipat. Jadi, sudah siapkah Anda menerapkan agile marketing dalam perusahaan Anda?



660 views0 comments

Recent Posts

See All